Rencana Kontijensi Erupsi Merapi di Kawasan TNGM

Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) telah menyusun rencana kontijensi erupsi merapi. Hal ini menyusul adanya peningkatan aktivitas vulkanik merapi beberapa waktu belakangan ini. Rencana kontijensi ini, sebenarnya sudah disusun sejak jauh hari. Hanya saja dilakukan penyesuaian-penyesuaian dengan situasi pandemi seperti sekarang ini.

Hal itu disampaikan Kepala Balai TNGM, Pujiati pada acara Talkshow dalam rangkaian Peringatan 10 Erupsi Merapi yang digelar Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta pada Rabu (4/10/2020).

TNGM sendiri memiliki cakupan wilayah yang sangat luas. Total ada 6600 hektar dengan 80 persen atau sekitar 5800 hektar di antaranya berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III.

Di waktu bersamaan, banyak aktivitas yang dilakukan di kawasan ini. Meliputi 1164 KK yang menggantungkan aktivitas mencari rumput, ada 569 KK yang beraktivitas mencari kayu bakar, serta ada area penambang rakyat yang juga berada di zona sekitar merapi.

Selain itu, TNGM juga mengelola sejumlah obyek wisata di kawasan Merapi. Meliputi Obyek Wisata Kaliurang, Obyek Wisata Deles di Klaten, Obyek Wisata di Kawasan Cangkringan serta Obyek Wisata Jurang Jero di Magelang.

Sejak 16 Maret 2020 lalu, obyek-obyek wisata alam itu sudah ditutup untuk umum. Ini dilakukan sebagai langkah pencegahan di masa pandemi.

Adapun mulai 17 Agustus 2020 lalu, obyek wisata paling luas dengan luasan 60 hektar yakni Jurang Jero, Magelang sudah dibuka kembali dengan penerapan protokol kesehatan.

“Di masa pandemi ini, kami tetap berkoordinasi dengan BPPTKG,” kata Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Pujiati.

Selain itu, pihaknya juga sudah membuat SOP jalur evakuasi, penunjuk arah, dan titik kumpul. Serta penyiapan prasarana protokol kesehatan. Selain itu TNGM juga berkordinasi dengan BPBD atau Pemda setempat untuk mendata masyarakat yang beraktivitas di kawasan rawan bencana.

Sebagai informasi, Kepala BPPTKG Yogyakarta Hanik Humaida telah memperingatkan bahwa telah terjadi peningkatan aktivitas Gunung Merapi. Tak menutup kemungkinan hal ini berujung pada fase erupsi.

Bahkan sejak Kamis, 5 November 2020 pukul 12.00 WIB status Gunung Merapi telah dinaikkan ke level III (Siaga).

Namun begitu dirinya mengungkapkan bahwa berdasarkan data-data pemantauan, erupsi kali ini akan cenderung menyerupai erupsi efusif tahun 2006. Bukan seperti letusan eksplotsif merapi di tahun 2010. (*)