Rencana Kontijensi Erupsi Merapi di Kabupaten Sleman

Kabupaten Sleman telah menyiapkan 35 barak pengungsian dalam rencana kontijensi erupsi merapi. Pengaturan pengungsian juga sudah diperbaharui dengan penerapan protokol kesehatan. Satu di antaranya kapasitas barak pengungsian yang hanya digunakan separuhnya, sehingga dapat meminimalisir risiko munculnya klaster penularan covid-19.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sleman, Makwan dalam acara Talkshow peringatan 10 tahun erupsi merapi yang digelar BPPTKG Yogyakarta pada Rabu (4/10/2020) kemarin.

“Di masa pandemi ini kami tambah dengan fasilitas cuci tangan, pengukur suhu dan sarana prasarana protokol kesehatan lainnya. Jumlahnya kami atur supaya aman dari penularan covid. Kami juga sudah menyiapkan barak khusus kelompok rentan di Purwobinangun,” jelasnya.

Selain itu, Sleman juga menerapkan pola sister village dengan konsep family to family jika jumlah barak pengungsian tidak mencukupi. Mereka pun sudah menentukan jalur evakuasi dengan memanfaatkan jalan perbatasan dengan Kabupaten Klaten.

Menariknya, Sleman telah mengadopsi sistem pengungsian ramah anak.

Anak-anak yang berada di pengungsian akan mendapatkan tempat sendiri semisal kamar mandi atau tempat mencuci tangan sendiri.

Menurut Makwan, anak menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi. Sehingga aspirasi mereka pun menjadi masukkan yang berharga untuk menyusun rencana kontijensi.

Di Sleman sendiri terdapat forum anak yang salah satunya dimanfaatkan untuk menjaring aspirasi mereka.

Sementara itu, dalam urusan teknologi, Sleman juga sudah memiliki aplikasi android yang bisa mengukur jarak seseorang dari puncak merapi.

Sehingga dengan demikian warga bisa mengetahui posisinya saat itu sekaligus mengetahui apakah dirinya berada dalam jarak bahaya atau tidak.

Sebagai informasi, Kepala BPPTKG Yogyakarta Hanik Humaida telah memperingatkan bahwa telah terjadi peningkatan aktivitas Gunung Merapi. Tak menutup kemungkinan hal ini berujung pada fase erupsi.

Bahkan sejak Kamis, 5 November 2020 pukul 12.00 WIB status Gunung Merapi telah dinaikkan ke level III (Siaga).

Namun begitu dirinya mengungkapkan bahwa berdasarkan data-data pemantauan, erupsi kali ini akan cenderung menyerupai erupsi efusif tahun 2006. Bukan seperti letusan eksplotsif merapi di tahun 2010. (*)