Rencana Kontijensi Erupsi Merapi di Kabupaten Magelang

Kabupaten Magelang telah menyusun rencana kontijensi erupsi Merapi yang disesuaikan dengan situasi di masa pandemi ini. Mereka bahkan memiliki tagline unik dalam hal kontijensi ini, yatu ‘Selamat dari Merapi, Selamat Pula dari Pandemi’.

Hal ini diungkapkan Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Edi Susanto pada acara Talkshow dalam rangkaian Peringatan 10 Erupsi Merapi yang digelar Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta pada Rabu (4/10/2020).

Edi menjelaskan, tagline itu menggambarkan bagaimana penyusunan rencana kontijensi merapi telah diperbaharui sehingga sesuai dengan prinsip protokol kesehatan di masa pandemi covid 19.

Secara praktis protokol kesehatan sudah diaplikasikan dalam semua level tanggap darurat. Semisal barak pengungsian dengan kapasitas yang dikurangi 50 %, pembuatan sekat di barak, penyediaan sarana dan prasarana untuk mendukung protokol kesehatan, bahkan Kabupaten Magelang sudah menyiapkan cadangan media rapid test dan swab test yang bisa digunakan kapan pun ketika terjadi evakuasi bencana merapi.

“Merapi ini kan tentang evakuasi, mengumpulkan orang, sementara pandemi itu bagaimana menjaga jarak. Inilah tantangan kita,” kata Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edi Susanto.

Untuk mengantisipasi supaya barak pengungsian tidak menjadi klaster baru penularan covid-19, Kabupaten Magelang menyiapkan konsep Paseduluran Deso yang konsepnya hampir sama dengan sister village. Ini untuk menampung jumlah pengungsi yang tak bisa masuk ke barak akibat dari pembatasan jumlah.

Bahkan mereka menyusun rencana pengungsian dengan konsep familiy to family, seperti sister village namun dengan skala antar keluarga.

“Tantangannya mungkin ada resistensi dari tuan rumah atau bahkan dari tamunya tentang kekhawatiran covid-19. Itulah alasannya kenapa sejak awal masyarakat juga kami libatkan dalam penyusunan rencana kontijensi ini,” jelasnya.

Pelibatan masyarakat itu dilakukan seperti dalam sosialisasi mitigasi bencana. Sehingga masyarakat mengetahui apa saja ancamannya, tantangannya apa saja, kemudian BPBD memberikan fasilitasi pelatihan. Dari kegiatan tersebut akhirnya diperoleh formulasi evakuasi dan pengungsian yang tak hanya aman dari ancaman merapi tapi juga aman dari covid 19.

Bahkan masyarakat sudah pro aktif untuk mempersiapkan kendaraan siaga secara mandiri dan diperoleh kesepakatan kelompok rentan yang mana yang diprioritaskan ketika terjadi evakuasi.

“Ini semua adalah upaya mitigasi supaya semua terselesaikan dengan baik. konsep ini dituangkan dalam dokumen rencana kontijensi yang akan direview berkala sesuai dengan kondisi yang ada,” paparnya.

Sebagai informasi, Kepala BPPTKG Yogyakarta Hanik Humaida telah memperingatkan bahwa telah terjadi peningkatan aktivitas Gunung Merapi. Tak menutup kemungkinan hal ini berujung pada fase erupsi.

Bahkan sejak Kamis, 5 November 2020 pukul 12.00 WIB status Gunung Merapi telah dinaikkan ke level III (Siaga).

Namun begitu dirinya mengungkapkan bahwa berdasarkan data-data pemantauan, erupsi kali ini akan cenderung menyerupai erupsi efusif tahun 2006. Bukan seperti letusan eksplotsif merapi di tahun 2010. (*)