Rencana Kontijensi Erupsi Merapi di Kabupaten Boyolali

Kepala Pelaksana Harian BPBD Boyolali, Bambang Sinungharjo telah menyusun rencana kontijensi erupsi yang sudah disesuaikan dengan situasi pandemi sekarang ini.

Mereka mengaplikasikan konsep sister village untuk pengungsian serta penerapan protokol kesehatan.

Untuk konsep sister village tersebut, telah disiapkan sejumlah desa penyangga bagi desa di Kawasan Rawan Bencana III. Bahkan direncanakan pula penerapan pengungsian melalui skema familiy to family. Hal itu dilakukan dengan memperhitungkan jangkauan bahaya serta rekomendasi dari BPPTKG Yogyakarta.

Selain itu, mereka juga sudah menyiapkan 100 ribu masker serta logistik lainnya yang diperlukan ketika terjadi bencana. Hal ini ia sampaikan dalam acara Talkshow dalam rangkaian acara Peringatan 10 Tahun Erupsi Merapi pada Rabu (4/10/2020)

Menariknya, Kabupaten Boyolali sudah menyiapkan juga skema rencana evakuasi ternak milik warga.

Menurut Sinung, permasalahan ternak ini justru sangat krusial. Lantaran tak sedikit di antara warga yang enggan mengungsi karena memikirkan ternaknya yang masih tertinggal di kawasan rawan bencana. Oleh karena itu, Boyolali sudah memperhitungkannya dengan membuat rencana evakuasi yang dikordinasikan bersama-sama dengan warga setempat.

Sebagai informasi, Kepala BPPTKG Yogyakarta Hanik Humaida telah memperingatkan bahwa telah terjadi peningkatan aktivitas Gunung Merapi. Tak menutup kemungkinan hal ini berujung pada fase erupsi.

Bahkan sejak Kamis, 5 November 2020 pukul 12.00 WIB status Gunung Merapi telah dinaikkan ke level III (Siaga).

Namun begitu dirinya mengungkapkan bahwa berdasarkan data-data pemantauan, erupsi kali ini akan cenderung menyerupai erupsi efusif tahun 2006. Bukan seperti letusan eksplotsif merapi di tahun 2010. (*)