Setiap Tahun Rp 87 Miliar Sumber Daya Merapi Dimanfaatkan Masyarakat

Setiap tahun Rp 87 miliar potensi sumber daya Merapi dimanfaatkan oleh masyarakat. Dari jumlah tersebut, sumber daya yang paling besar berasal dari aktivitas merumput sebagai pakan ternak yang mencapai Rp 36,7 miliar per tahun. “Satu hari, satu keluarga minimal merumput atau mugut dua kali, pagi dan sore. Ini baru nilai rupiah yang diteliti di daerah atas, khususnya di kawasan taman nasional,” jelas Tri Atmodjo, moderator acara Jagongan Virtual bertema Kondisi Sumber Daya Merapi, pada Selasa (3/10/2020).

Adapun sumber daya merapi kedua yang potensial yakni pasir. Setiap tahunnya sumber daya yang dimanfaatkan mencapai Rp 27 miliar. Ketiga yakni air dengan nilai mencapai Rp 17,7 miliar.

“Di atas ada 43 titik mata air, belum termasuk yang di bawah. Kalau yang di atas paling besar yakni Umbul Temanten yang ada di Cangkringan,” tambahnya.

Keempat yaitu dari kayu bakar, rencek yang mencapai nilai Rp 3,1 miliar, selanjutnya yang kelima yakni sumber daya dari sektor pariwisata yang mencapai Rp 1,4 miliar. Sumber daya lainnya semisal pemanfaatan lahan dan lainnya, hingga total ada Rp 87 miliar sumber daya yang dimanfaatkan.

“Hampir semua sumber daya itu dimanfaatkan oleh masyarakat. Ada sekitar 30 desa yang menempel dengan Merapi,” ulasnya.

Kekayaan sumber daya yang dimiliki Merapi ini kian mempertegas bahwa Gunung Merapi memang memiliki potensi ancaman bahaya. Namun di balik itu semua, merapi juga memberikan penghidupan bagi warga yang ada di sekitarnya. Misal cadangan air, kesuburan tanah dan juga potensi alam yang bisa dikembangkan untuk kawasan pariwisata.

Hal inilah yang disampaikan oleh sejumlah warga yang menjadi tamu dalam acara Jagongan Virtual yang merupakan rangkaian Peringatan 10 Tahun Erupsi Merapi.

Suyanti, penghuni kompleks huntap Karang Kendal. Ia dulunya bekerja di sektor pertanian. Akibat erupsi besar pada tahun 2010 lalu, Suyanti kemudian banting stir dengan bekerja di sektor pariwisata. Ia kini memiliki usaha penyewaan sepeda motor trail untuk para wisatawan.

Meski sempat terseok-seok akibat pandemi, namun kini omsetnya mulai meningkat perlahan. Baginya, Merapi merupakan sumber rezeki, sumber mata air, sekaligus sumber kesehatan lantaran udaranya yang segar dan sejuk.

Hal yang sama disampaikan Supono dari Klangon, Kalitengah Lor. Warga desanya kini fokus pada sektor pariwisata terutama untuk kawasan wisata Bukit Klangon. Di sini mereka menawarkan camping ground, arena downhill dan spot foto.

Rata-rata mereka sanggup menghasilan Rp 50 juta per bulannya. “Tidak hanya menerima, kami juga memberi merapi dengan ikut menjaga kelestarian alamnya, melakukan penghijauan dan lain-lain,” tambahnya.

Lain halnya dengan Nyono Wahyono dari Deles. Ia tak terjun di sektor pariwisata melainkan tetap menekuni usaha pertanian dan peternakan. Produk unggulannya yakni madu dari lebah madu dan lanceng serta sapi. Ada pula produk sayuran meliputi cabai dan kol.

Sementara itu, pengurus Asosiasi Perhotelan dan juga pengurus asosiasi jeep wisata lereng merapi Heribertus menekankan pentingnya hidup harmonis dengan Merapi.

Bagaimana pun Merapi memang memiliki potensi bahaya. Dan hal ini harus disadari oleh semua pihak.

“Intinya living harmony with merapi. Saat merapi duwe gawe ya kita minggir dulu. Tapi kalau sudah aman, ya mari kita berkegiatan mencari nafkah,” jelasnya.

Soal potensi dan sumber daya merapi, Heribertus memberikan contoh bagaimana perkembangan wisata lava tour yang kini jadi daya tarik wisata alam di lereng merapi.

Jeep Wisata ini berawal pascaletusan besar merapi 2010. Banyak area yang hanya bias dijangkau dengan menggunakan kendaraan khusus, yang dalam hal ini adalah Jeep. Dari situ kemudian mulai ada yang menyediakan jeep-jeep wisata yang pada awalnya berjumlah 10 unit pada tahun 2011. Kemudian berkembang hingga bertambah menjadi 50 unit jeep wisata di tahun 2012, lantas bertambah lagi menjadi 400an unit di tahun 2018 hingga sekarang sudah ada hampir 1000 unit jeep wisata yang dikelola warga.

“Waktu itu sederhana saja, bagaimana mengubah tantangan jadi peluang usaha,” tambahnya.

Bukan main-main, usaha jeep wisata ini sekarang bisa menghidupi 5000 hingga 6000 orang warga yang tersebar di Umbulharjo, Hargobinangun dan Kepuharjo. Wajar saja, jeep wisata ini memiliki multiplier effect semisal menumbuhkan juga usaha souvenir, kuliner atau rumah makan dan tumbunya kantong-kantong wisata yang lainnya di lereng merapi.

“Jadi kalau saya bilang merapi itu lebih banyak berkahnya, itu yang kami rasakan,” tandasnya.

Adapun dari pertemuan virtual bertajuk Jagongan Virtual tersebut, semuanya sepakat bahwa merapi memang memiliki potensi bencana yang membahayakan. Namun di balik itu semua merapi juga menyimpan potensi luar biasa yang bisa dimanfaatkan oleh warga.

Dalam bahasa Slamet Riyadi, seorang operator jeep wisata yang tinggal di huntap Pagerjurang, Cangkringan, warga harus legowo hidup berdampingan dengan Merapi. “Karena kita di lereng, tentunya kita harus sadar dan paham betul menghadapi merapi. Intinya kita harus legowo,” tandasnya. (*)