Melihat Puncak Tertinggi Gunung Merapi di Kantor BPPTKG Yogya

Kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta tak hanya berperan dalam pemantauan aktivitas Gunung Merapi. Akan tetapi kantor yang berada di Jalan Cendana, Semaki, Yogyakarta ini pun merupakan gudang ilmu pengetahuan kegunungapian terutama Gunung Merapi.

Bagaimana tidak, di kantor ini terdapat sample bebatuan hasil aktivitas vulanik dari gunung-gunung yang ada di Indonesia. Semisal Gunung Ijen, Gunung Bromo atau Gunung Kelud. Bebatuan itu diteliti untuk mengetahui kandungan mineralnya sehingga dapat dipahami bagaimana karakter letusan gunung-gunung tersebut.

Pun demikian halnya dengan Gunung Merapi. Berbagai sample batuan diambil dari Gunung Merapi untuk memperkerikan pula bagaimana perilaku merapi selanjutnya. Ada batuan dengan kadar asam yang tinggi, sementara yang lainnya memiliki kandungan basa yang tinggi. Hal ini menandakan jenis letusan eksplosif atau efusif.

Bebatuan ini dianalisa di Laboratorium Petrografi yang juga ada di BPPTKG Yogyakarta. Hal itu dijelaskan Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida dalam acara Virtual Open House bersama presenter Wanda pada Rabu (4/10/2020).

Selain sample batuan, di BPPTKG Yogyakarta juga terdapat dokumentasi letusan-letusan Gunung Merapi serta gunungapi-gunungapi lainnya yang ada Indonesia. Dari mulai foto hitam putih, hingga foto terkini yang diambil menggunakan drone.

Yang menarik, terdapat beberapa maket Gunung Merapi yang memperlihatkan morfologi puncak pada setiap periode letusan. Bahkan kita bisa melihat dengan jelas penampakan Puncak Garuda yang masih utuh, sebelum ambrol pada letusan tahun 2010 lalu. Puncak Garuda ini merupakan titik paling populer di kalangan pendaki Gunung Merapi lantaran menjadi puncak tertinggi di Merapi.

Beralih ke ruangan lainnya, Hanik memperlihatkan ruangan monitoring di mana semua data pemantauan dikumpulkan kemudian diterjemahkan ke dalam grafik-grafik yang terpampang di layar monitor. Ada data kegempaan, data deformasi, data cuaca, penampakan gunung merapi secara utuh hingga data-data kandungan gas, suhu dan data instrumen pemantauan lainnya.

Ruang monitoring ini menjadi pusat dari seluruh data yang dikumpulkan dari 74 stasiun pemantauan dengan 147 sensor atau parameter pemantauan. Sementara data-data pemantauan visual, berasal dari 34 kamera CCTV yang selama ini dipasang di berbagai titik di Merapi dan ada juga yang dipasang di Merbabu.

Sebagai informasi, pemantauan visual diperoleh dari kamera CCTV, kamera DSLR, Thermal Cam serta yang terbaru yakni dengan menggunakan drone untuk mengetahui morfologi kubah lava di puncak merapi. Sementara visual CCTV dioperasikan selama 24 jam penuh, untuk penggunaan drone paling tidak diambil selama satu bulan sekali.

Ruang monitoring ini memang tidak dijaga selama 24 jam penuh, namun semua informasi tersebut dikirimkan pula kepada para pegawai BPPTKG secara realtime lewat aplikasi peringatan dini internal. Sehingga aktivitas merapi pun tetap dipantau selama 24 jam penuh lewat teknologi otomatisasi. Meski demikian, ada pula yang bertugas atau dijaga 24 jam penuh. Yakni para pegawai yang bertugas di setiap pos pengamatan merapi. Jumlahnya total petugas pemantau ini sebanyak 29 orang termasuk yang di kantor BPPTKG Yogyakarta dan yang bertugas di Pos Pengamatan Merapi.

Hasil akhir dari semua aktivitas di BPPTKG Yogyakarta inilah yang kemudian diterjemahkan menjadi informasi yang dapat dipahami oleh masyarakat. Yakni lewat parameter status aktivitas merapi yang meliputi Normal, Waspada, Siaga dan Awas. Informasi – informasi tersebut disampaikan secara berkala kepada masyarakat dan juga kepada para pemangku kepentingan baik itu melalui website resmi maupun melalui saluran-saluran media sosial. “Intinya ini merupakan instrumen dalam rangka mitigasi bencana, untuk mengurangi risiko bencana dan juga untuk memahami aktivitas vulkanik Gunung Merapi,” jelas Hanik. (*)