Warga Lereng Merapi Miliki Daya Lenting yang Sangat Baik

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) periode 2008 – 2015 Syamsul Ma’arif mengakui bahwa warga di lereng merapi memiliki daya lenting (bounce back) yang sangat baik. Daya lenting tersebut, merujuk pada kemampuan dan semangat untuk bangkit kembali dari situasi krisis. Hal itu disampaikan Syamsul Ma’arif saat acara webinar seri 3 pada Peringatan 10 Tahun Erupsi Merapi yang digelar pada Kamis (29/20/2020).

Menurut Syamsul, daya lenting ini menjadi modal sosial yang penting dalam rangka menjawab tantangan yang akan dihadapi di masa mendatang. Namun untuk mewujudkannya maka setidaknya diperlukan lima syarat utama.

Pertama, kemampuan dan kemudahan masyarakat dalam mengakses informasi. Dengan kemampuan ini, maka masyarakat dapat memahami berbagai macam potensi bahaya sekaligus mengikuti perkembangan informasi terkini. Sebagai contoh seperti yang dilakukan oleh warga Balerante, Klaten. Mereka membuat radio komunitas yang ditempatkan di sawah, ladang atau di tempat lainnya yang menjadi titik aktivitas warga. Informasi-informasi penting itu diputar melalui radio tersebuk supaya warga tetap bisa memantau perkembangan situasi sambil mereka bekerja.

Syarat kedua, warga harus memiliki daya antisipasi. Hal ini berkaitan dengan pengetahuan mereka tentang mitigasi bencana. Sehingga dapat meminimalisir risiko dan mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.

Ketiga berkaitan dengan daya proteksi. Yakni kemampuan melindungi diri, keluarga maupun orang-orang di sekitarnya dari ancaman bencana. Daya proteksi juga termasuk di antaranya mengetahui kapan harus menghindari dari ancaman bahaya.

Keempat, warga harus memiliki daya adaptasi terhadap lingkungan di sekitarnya. Serta yang kelima yakni kemampuan dan kemampuan untuk bangkit itu sendiri.

Selain daya lenting, Syamsul juga mengapresiasi kinerja para relawan yang ikut berpartisipasi dalam upaya mitigasi bencana. Salah satu yang menarik adalah pembuatan peta kerentanan sosial yang dibuat per RT. Peta ini memuat data-data warga sekeligus informasi kelompok-kelompok rentan yang ada di keluarga tersebut. Informasi ini sangat penting untuk mengindetifikasi kelompok rentan utamanya ketika harus dilakukan proses evakuasi. Sehingga dalam praktiknya, dapat diketahui kelompok mana saja yang harus diprioritaskan.

“Peta itu sampai saya bagikan juga ke tempat lain,” ungkapnya.

Berdasarkan pengalaman tahun 2010 serta modal sosial yang dimiliki warga lereng merapi, Syamsul yakin bahwa upaya mitigasi bencana hingga penanggulangan bencana di masa mendatang akan berjalan semakin optimal. Hanya saja perlu ada pembenahan dalam beberapa hal. Salah satunya adalah pembuatan Pre-Disaster Recovery Assessment untuk mengetahui profil risiko yang lebih lengkap dengan berbagai alternatif skenario bencana serta rencana penanggulangan bencananya. (*)