Mengenal 3 Satelit yang Pernah Memelototi ‘Wedhus Gembel’ Merapi

Sepanjang kurun waktu 1996 – 2010 setidaknya ada tiga satelit yang ikut memelototi Gunung Merapi. Satelit-satelit tersebut berperan dalam mengumpulkan data deposit sebaran material piroklastik hasil dari letusan merapi. Informasi ini sangat penting untuk memetakan potensi bahaya akibat sebaran material piroklasik di masa mendatang.

“Prinsipnya bagaimana kita bisa mendeteksi piroklastik, dengan membandingkan data sebelum dan sesudah letusan. Dari kedua data inilah kita bisa tahu sebarannya. Data-data ini penting untuk menghitung salah satunya jarak luncur material piroklastik,” jelas Dr. Asep Saepulloh, Staf Pengajar Fakultas Teknologi dan Ilmu Kebumian, ITB yang hadir sebagai narasumber dalam acara webinar seri 1 Peringatan 10 Tahun Erupsi Merapi pada Senin (27/10/2020).

Ia menjelaskan, ketiga satelit itu yakni JERS-1 dan Radarsat-1. Ditambah satelit ALOS PALSAR yang baru digunakan pada tahun 2010..

Asep menjelaskan bahwa teknologi penginderaan jarak jauh melalui satelit ini memiliki keunggulan saat digunakan di daerah tropis seperti Indonesia. Lantaran ia mampu melewati tutupan awan dan vegetasi sehingga bisa mengakses hingga ke permukaan tanah.

JERS-1 sendiri merupakan kependekan dari Japanese Earth Resources Satellite 1 atau dikenal pula dengan sebutan Fuyo-1. Satelit ini diluncurkan pada tahun 1992 oleh Japan Aerospace Exploration Agency. JERS-1 beroperasi hingga tahun 1998 dan kembali memasuki atmosfer bumi di tahun 2001.

JERS-1 digunakan untuk survei fenomena geologi, pengamatan wilayah pesisir, pemetaan geologi dan hidrothermal, pemantauan bencana hingga aplikasinya di bidang pertanian dan kehutanan.

Sementara itu Radarsat-1 merupakan satelit observasi Bumi pertama yang dikembangkan dan dioperasikan secara komersial di Kanada dengan tujuan untuk memantau perubahan lingkungan dan sumber daya alam di wilayah gelombang mikro. Data SAR observasi berguna bagi pengguna komersial dan ilmiah di bidang-bidang seperti manajemen bencana, interferometri, pertanian, kartografi, hidrologi, kehutanan, oseanografi, studi es dan pemantauan pantai.

Adapun Advanced Land Observing Satellite (ALOS) PALSAR diluncurkan pada 24 Januari 2006 oleh Japan Aerospace and Exploration Agency (JAXA) dan beroperasi hingga 12 Mei 2011.

Satelit ini berhasil menangkap 6,5 juta citra selama lima tahun masa operasinya. Satelit ini menyediakan data observasi Bumi berkualitas tinggi untuk pemetaan topografi, pemantauan bencana dan lingkungan, serta studi perubahan iklim. ALOS PALSAR diluncurkan ke orbit sinkron matahari dan berputar mengelilingi bumi setiap 100 menit, atau 14 kali sehari. Dan ALOS PALSAR kembali ke jalur semula (siklus berulang) setiap 46 hari.

ALOS memiliki keunggulan pada sensor PALSAR, yang merupakan sensor gelombang mikro aktif yang tidak terpengaruh oleh kondisi cuaca dan dapat dioperasikan baik siang maupun malam. Itu didasarkan pada Synthetic Aperture Radar (SAR) yang dibawa di atas satelit observasi bumi pertama Jepang (JERS-1). (*/USGS/ESA/JAXA)