Memahami Perilaku Merapi dari Data Pemantauan

Data memiliki peran penting dalam mitigasi bencana. Berkat teknologi dan sumber daya manusia yang semakin mumpuni, data bisa menjadi semakin kredibel. Salah satu contohnya adalah data pemantauan gunung api. Data pemantauan dapat menjadi patokan dalam memprediksi terjadinya erupsi.

Pada erupsi besar Merapi 2010, berdasarkan data BPPTKG menunjukkan bahwa letusan tersebut memiliki kemiripan dengan erupsi pada 1872. Hal itu diungkapkan oleh Dr. Agus Budi Santoso, Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG dalam Webinar seri 1 “Menerjemahkan Data Merapi”, Selasa (27/10/2020).

Ia juga mengatakan bahwa kronologi aktivitas vulkanik Merapi pada 1872 vs 2010 yang hampir sama, dikhawatirkan akan memunculkan episode baru yang berlanjut pada ekstrusi magma kedua. Sebab, ekstrusi magma pertama setelah erupsi besar Merapi pada 2010 telah terjadi di 2018. Sehingga, ekstrusi magma kedua diprediksi akan terjadi setelah 5 tahun ekstrusi magma pertama. Hal tersebut didasarkan pada data pemantauan sekaligus kemiripan dengan erupsi besar pada 1872.

Menurut Agus, data pemantauan juga dapat menjadi acuan untuk menentukan status siaga gunung api. “Faktor penentu status siaga adalah faktor ancaman bahaya pada erupsi efusif, diukur dari kubah lava, pertumbuhan, volume, posisi, dan kestabilannya,” ujarnya.

Tak lupa, Agus juga menegaskan bahwa BPPTKG tidak memungkiri terjadinya skenario erupsi eksplosif. Meskipun kemungkinannya kecil, hal tersebut tetap harus diwaspadai dengan mengamati percepatan signifikan dari peningkatan data pemantauan, baik seismik maupun deformasi.

Melalui webinar seri 1, hasil kajian data aktivitas Gunung Merapi dari berbagai periode waktu dan disiplin ilmu dipaparkan. Dalam seri ini, hadir pula Dr. Akhmad Solikhin dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Dr. Asep Saepulloh dari Fak. Teknologi dan Ilmu Kebumian ITB, dan Dr. Agung Harijoko dari Fak. Teknik Geologi UGM. Berlangsung selama 3 jam, acara ini dipandu oleh Ir. IGM Agung Nandaka dari BPPTKG. (*)