Panduan Mitigasi Bencana untuk Kelompok Disabilitas

Bencana alam tak dapat dihindari. Bahkan untuk bencana alam semisal gempa bumi hingga sekarang tak dapat diprediksi kapan waktu kejadiannya secara tepat. Para ilmuwan dan juga teknologi sejauh ini baru dapat memetakan potensi-potensi ancaman bahaya serta memahami periode pengulangan kejadian untuk memperkirakan kapan kemungkinan bencana berikutnya akan terjadi.

Dalam kondisi demikian, maka mitigasi adalah kunci utama dalam rangka menurunkan risiko bencana. Baik itu risiko korban jiwa maupun kerusakan akibat bencana. Serta yang tak kalah pentingnya adalah kesadaran akan potensi ancaman bencana yang harus disadari oleh seluruh lapisan masyarakat. Terlebih, Indonesia merupakan wilayah dengan potensi kebencanaan yang tinggi, mulai dari bencana gempa bumi, erupsi gunung api, tsunami dan juga bencana meteorologi lainnya.

Bahasan mengenai mitigasi bencana inilah yang menjadi tema utama dalam acara Refleksi 10 Tahun Erupsi Merapi yang digelar secara daring mulai Senin, 26 Oktober 2020.

“Melalui kegiatan ini kita berupaya meminimalisir resiko bencana dengan melakukan mitigasi bencana erupsi Gunung Merapi melalui berbagai kegiatan, mulai dari webinar, Jagongan Virtual Merapi, Open House, Talkshow hingga perlombaan,” jelas Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida dalam pembukaan acara.

Berbicara mengenai mitigasi bencana, tentu hal ini harus mencakup semua elemen masyarakat. Mulai dari kelompok pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan, kelompok masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana, hingga kelompok-kelompok rentan semisal lansia dan disabilitas.

Di antara kelompok tersebut, disabilitas menjadi elemen masyarakat yang sangat rentan. Lantaran bencana alam dapat memperparah kondisi mereka baik fisik maupun mental. Bahkan bencana alam dapat menambah jumlah penyandang disabilitas.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun sudah memformulasikan mitigasi bencana untuk kelompok disabilitas. Apa saja hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam mitigasi bencana untuk disabilitas? Berikut uraiannya ;

Sebelum bencana

  • Lakukan pengelompokkan berdasarkan wilayah, kondisi dan jenis disabilitas.
  • Mengkomunikasikan risiko yang akan dihadapi dan bagaimana langkah-langkah untuk mengatasinya.
  • Lakukan pelatihan bersama kerabat terdekat tentang kegiatan pengurangan risiko bencana.
  • Komunikasikan sistem peringatan dini sesuai jenis disabilitasnya.
  • Pemetaan kebutuhan pada saat dan setelah terjadinya bencana.
  • Meningkatkan keamanan rumah maupun ruang publik.

Saat terjadi bencana

  • Jauhkan dari lokasi bencana
  • Fokus pada korban yang sendirian dan belum mendapatkan pertolongan.
  • Bawa ke pengungsian atau ke rumah sakit.
  • Lakukan pendataan atau penilaian.
  • Berikan konseling dan terapi.
  • Ikut sertakan dalam kegiatan pencarian, penyelamatan dan evakuasi yang dilengkapi dengan kebutuhan khusus.

Setelah bencana

  • Libatkan dalam posko layanan bencana.
  • Tingkatkan pelatihan penyelamatan diri.
  • Berikan konseling untuk meminimalisir trauma.

Bahasan mengenai mitigasi bencana ini menjadi salah satu topik yang diangkat dalam acara Refleksi 10 Tahun Erupsi Merapi. Acara ini menjadi wahana dalam rangka meningkatkan kapasitas mitigasi bencana erupsi Gunung Merapi. Ada berbagai kegiatan yang dilaksanakan antara lain Webinar, Jagongan Virtual Merapi, Virtual Open house, Talkshow, serta Lomba Tiktok Dasa Warsa Merapi. Acara yang digelar secara virtual ini dimulai pada 26 Oktober 2020 hingga 4 November 2020. Seluruh agenda kegiatan dapat disimak melalui laman https://dasawarsamerapi.id . (*)